Friday, February 24, 2012

Hadith Niat..taraf hadith ini

Bismillahirrahmanirrahim..Alhamdulillahirobbil Alaamiin, Wassolaatuwassalamu Ala Asyrafil Anbiya'i wal mursalin, Wa 'Ala Aalihi Wasohbihi Ajma'in

Saya ada post hadith tentang niat dan ada yang bertanyakan kepada saya tentang taraf hadith niat itu.. sy mengatakan atas dasar ilmu saya yang cetek bahawa hadith itu adalah shahih berdasarkan tindakan para ulama' hadith dan fiqh yang mengambil hadith niat sebagai salah satu drpd cabang ilmu yg utama..

saya insan yang lemah, faqir dalam ilmu dan saya berkongsi segala ilmu dan dakwah yang didalam bahagian ilmu yang saya pernah pelajari dan dengar dari para Ulamak dan Ustaz secara depan-depan..

 insyaallah, saya akan bertanya kembali kepada Ustaz saya tentang taraf hadith niat ini sama ada shahih atau ghorib.. 

dan saya ada perkongsian tentang taraf hadith ini dari sumber 

http://nurussunnah.com/hadits/syarah-hadits-arbain-1/

insyaallah ini copy paste bulat-bulat..nanty yg kurang faham saya akan edit skt.. insyaallah ^_^


time kasih kepada yang bertanya dan comment!

Khilaf itu adalah Rahmat daripada Allah..

 

Syarah Hadits Arba’in #1

By on 10-18-2011 in hadits
Syarah Hadits Arba’in #1
Diterjemahkan dari kitab Fathul Qowwiy Al Matiin fi Syarh Al Arba’iin wa tatimmah Al Khomsiin (فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين)
Karya Asy Syaikh Abdul Mushin ibn Hammad Al ‘Abbad Al Badr hafizhohullah
Hadits yang pertama
الحديث الأول
عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب قال: سمعتُ رسول الله * يقول: (( إنَّما الأعمال بالنيَّات، وإنَّما لكلِّ امرئ ما نوى، فمَن كانت هجرتُه إلى الله ورسوله فهجرتُه إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يُصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه )).
رواه إمامَا المحدِّثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه البخاري، وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصحُّ الكتب المصنَّفة..
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:
((Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.))
Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al
Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang.
1 ـ أخرجه البخاري ومسلم وأصحاب السنن وغيرُهم، وقد تفرَّد بروايته عن عمر: علقمة بنُ وقاص الليثي، وتفرَّد به عنه محمد بن إبراهيم التيمي، وتفرَّد عنه يحيى بن سعيد الأنصاري، ثم كثر الآخذون عنه، فهو من غرائب صحيح البخاري، وهو فاتحته، ومثله في ذلك خاتمته، وهو حديث أبي هريرة (( كلمتان حبيبتان إلى الرحمن … )) الحديث، وهو أيضاً من غرائب الصحيح..
1. Hadits ini dikeluarkan oleh Al Bukhari dan Muslim dan para pemilik kitab sunan, dan selain mereka. Dan periwayatan hadits ini menyendiri, dari Umar : Alqomah ibn Waqqosh Al Laitsiy, dan Muhammad ibn Ibrahim At Taimiy menyendiri pula  meriwayatkan darinya, dan Yayhya ibn Sa’iid Al Anshoriy menyendiri pula meriwayatkan darinya, kemudian setelah itu banyak perawi yang mengambil darinya. Hadits ini merupakan salah satu dari hadits ghorib dalam shahih Bukhari, hadits ini diletakkan beliau sebagai pembuka kitab shahihnya, dan hadits yang semisal juga beliau letakkan sebagai penutup kitab shahihnya, hadits itu adalah hadits Abu Hurairoh : ((Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman yang ringan di lisan dan berat di timbangan : Subhanallahil azhiim subhanallah wa bihamdih)), hadits ini juga termasuk dari hadits ghorib dalam shahih Bukhari.
2 ـ افتتح النووي أحاديث الأربعين بهذا الحديث، وقد افتتح جماعة من أهل العلم كتبَهم به، منهم الإمام البخاري افتتح صحيحه به، وعبد الغني المقدسي افتتح كتابه عمدة الأحكام به، والبغوي افتتح كتابيه مصابيح السنة وشرح السنة به، وافتتح السيوطي كتابه الجامع الصغير به، وعقد النووي في أول كتابه المجموع شرح المهذب فصلاً قال فيه (1/35): (( فصل في الإخلاص والصدق وإحضار النية في جميع الأعمال البارزة والخفية ))، أورد فيه ثلاث آيات من القرآن، ثم حديث (( إنَّما الأعمال بالنيَّات ))، وقال: (( حديث صحيح متفق على صحته، ومجمع على عظم موقعه وجلالته، وهو إحدى قواعد الإيمان وأول دعائمه وآكد الأركان، قال الشافعي رحمه الله: يدخل هذا الحديث في سبعين باباً من الفقه، وقال أيضاً: هو ثلث العلم، وكذا قاله أيضاً غيرُه، وهو أحد الأحاديث التي عليها مدار الإسلام، وقد اختلف في عدِّها، فقيل: ثلاثة، وقيل: أربعة، وقيل: اثنان، وقيل: حديث، وقد جمعتها كلَّها في جزء الأربعين، فبلغت أربعين حديثاً، لا يستغني متديِّن عن معرفتها؛ لأنَّها كلَّها صحيحة، جامعة قواعد الإسلام، في الأصول والفروع والزهد والآداب ومكارم الأخلاق وغير ذلك، وإنَّما بدأت بهذا الحديث تأسيًّا بأئمَّتنا ومتقدِّمي أسلافنا من العلماء رضي الله عنهم،
2. Imam An Nawawi memulai hadits arbainnya dengan hadits ini, dan sejumlah ahli ilmu juga memulai di dalam kitab-kitab mereka dengan hadits ini, diantaranya Imam Al Bukhari dalam shahih-nya, Abdul Ghoniy Al Maqdisiy memulai kitabny Umdah Al Ahkam dengan hadits ini, Al Baghowi memulai kitabnya Mashoobiih As Sunnah dan Syarhus Sunnah dengan hadits ini, As Suyuthiy memulai kitabnya Al Jami’ Ash Shoghiir dengan hadits ini, dan An Nawawi dalam permulaan kitabnya Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab meletakkan sebuah pasal, dia mengatakan disana (1/35) : ((Pasal tentang keikhlasan dan kejujuran dan menghadirkan niat dalam semua amalan, baik yang nampak maupun tersembunyi)), dan dia menghadirkan disana tiga ayat dari Al Quran, kemudian dia meletakkan hadits : ((Hanyalah amal-amal tergantung dengan niatnya)), dan dia mengatakan : ((Hadits shahih disepakati atas keshahihannya, dan disepakati pula atas kedudukannya yang agung dan kemuliaannya, dan hadits ini adalah salah satu dari kaidah iman dan merupakan peyangganya yang pertama, dan yang memperkuat tiangnya, Asy Syafi’iy rahimahullah berkata : Hadits ini masuk dalam 70 bab fiqh, dan dia juga mengatakan : hadits ini merupakan sepertiga ilmu, dan begitu juga selain dari beliau mengatakan yang demikian. Hadits ini merupakan salah satu dari hadits yang merupakan inti islam, dan para ulama berselisih tentang jumlah hadits yang menjadi inti tersebut, dikatakan : 3, dikatakan : 4, dikatakan : 2, dan dikatakan : 1. Dan semua hadits itu saya kumpulkan dalam bagian arba’in, dan mencapailah 40 hadits, dan seorang yang alim haruslah memahaminya, karena itu semuanya adalah shahih, dan merupakan kumpulan kaidah-kaidah islam, baik di dalam ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), dan zuhud, adab-adab, dan akhlak mulia, dan yang selainnya, Dan saya hanya memulai hadits ini untuk mencontoh para imam kita yang terhadulu yang mendahului kita, semoga Allah meridhoi mereka.
وقد ابتدأ به إمام أهل الحديث بلا مدافعة أبو عبد الله البخاري صحيحه، ونقل جماعة أنَّ السلف كانوا يستحبُّون افتتاح الكتب بهذا الحديث؛ تنبيهاً للطالب على تصحيح النيَّة وإرادته وجه الله تعالى بجميع أعماله البارزة والخفيَّة، ورُوينا عن الإمام أبي سعيد عبد الرحمن بن مهدي ـ رحمه الله ـ قال: لو صنَّفت كتاباً بدأت في أوَّل كلِّ باب منه بهذا الحديث، ورُوينا عنه أيضاً قال: مَن أراد أن يصنِّف كتاباً فليبدأ بهذا الحديث، وقال الإمام أبو سليمان حمد بن محمد بن إبراهيم بن الخطاب الخطابي الشافعي الإمام في كتابه المعالم رحمه الله تعالى: كان المتقدِّمون من شيوخنا يستحبُّون تقديم حديث (الأعمال بالنيات) أمام كلِّ شيء يُنشأ ويُبتدأ من أمور الدِّين؛ لعموم الحاجة إليه في جميع أنواعها )).
وقال ابن رجب في جامع العلوم والحكم (1/61): (( واتَّفق العلماء على صحَّته وتلقيه بالقبول، وبه صدَّر البخاري كتابَه الصحيح، وأقامه مقام الخُطبة له؛ إشارة منه إلى أنَّ كلَّ عمل لا يُراد به وجه الله فهو باطل، لا ثمرة له في الدنيا ولا في الآخرة )).
Dan Imam Ahli hadits yang tidak diperselisihkan kepakarannya yakni Al Bukhari memulai hadits ini dalam shahih-nya, dan beliau menukil bahwa sejumlah salaf senantiasa menyukai untuk memulai kitab-kitabnya dengan hadits ini, sebagai penjelasan kepada para penuntut ilmu untuk membenarkan niat, dan menghadirkannya untuk mencari ridho Allah ta’ala terhadap semua amal-amal, baik yang nampak maupun tersembunyi, dan diriwayatkan dari Imam Abu Sa’iid Abdurrahman ibn Mahdiy -rahimahullah- dia berkata : Seandainya aku menulis sebuah kitab maka aku akan mulai pada setiap permulaan bab tersebut dengan hadits ini, dan diriwayatkan darinya juga, dia berkata : Barang siapa yang hendak menulis sebuah kitab, maka hendaklah dia memulai dengan hadits ini, dan berkata Imam Abu Sulaiman Hammad ibn Muhammad ibn Ibrahiim ibn Al Khottob Al Khottobiy Asy Syafi’iy Al Imam dalam kitabnya Al Mu’aalim rahimahullah : Para ulama mutaqoddimin (terdahulu) dari syaikh-syaikh kami senantiasa menyukai untuk mendahulukan hadits (Innamal a’maalu binniyaat) di depan segala sesuatu untuk memulai dari urusan-urusan agama. hal itu dikarenakan kebutuhan atasnya pada semua macamnya.
Dan Imam ibn Rajab berkata dalam Jami’ Al Ulum wal Hikam (1/61) : ((Para ulama bersepakat atas keshahihannya dan bertemunya sanad dan penerimaan hadits ini, dan Al Bukhari memulai dengan hadits ini dalam kitabnya Ash Shahih, dan beliau menempatkan pada tempat pembukaan kitab, sebagai tanda bahwa setiap amal yang tidak dimaksudkan untuk mencari wajah Allah maka amal tersebut bathil (rusak, batal), tidak ada buahnya di dunia (karena hanya menghasilkan lelah -pent) dan tidak pula di akhirat (karena tidak mendapat pahala -pent).))
3 ـ قال ابن رجب: (( وهذا الحديث أحد الأحاديث التي يدور الدِّين عليها، فروي عن الشافعي أنَّه قال: هذا الحديث ثلث العلم، ويدخل في سبعين باباً من الفقه، وعن الإمام أحمد قال: أصول الإسلام على ثلاثة أحاديث: حديث عمر (الأعمال بالنيات)، وحديث عائشة (من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد)، وحديث النعمان بن بشير: (الحلال بيِّن والحرام بيِّن) )).
وقال أيضاً (1/71) في توجيه كلام الإمام أحمد: (( فإنَّ الدِّين كلَّه يرجع إلى فعل المأمورات وترك المحظورات، والتوقف عن الشبهات، وهذا كلُّه تضمَّنه حديث النعمان بن بشير، وإنَّما يتمُّ ذلك بأمرين:
أحدهما: أن يكون العمل في ظاهره على موافقة السنَّة، وهذا هو الذي تضمَّنه حديث عائشة: (من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد).
والثاني: أن يكون العمل في باطنه يُقصد به وجه الله عزَّ وجلَّ، كما تضمَّنه حديث عمر: (الأعمال بالنيات).
وأورد بن رجب نقولاً (1/61 ـ 63) عن بعض العلماء في الأحاديث التي يدور عليها الإسلام، وأنَّ منهم من قال: إنَّها اثنان، ومنهم مَن قال: أربعة، ومنهم من قال: خمسة، والأحاديث التي ذكرها عنهم بالإضافة إلى الثلاثة الأولى حديث: (( إنَّ أحدكم يُجمع خلقُه في بطن أمِّه ))، وحديث: (( من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه ))، وحديث: (( إنَّ الله طيِّب لا يقبل إلاَّ طيِّباً ))، وحديث: (( لا يؤمن أحدكم حتى يحبَّ لأخيه ما يحبُّ لنفسه ))، وحديث: (( لا ضرر ولا ضرار ))، وحديث: (( إذا أمرتكم بأمر فائتوا منه ما استطعتم ))، وحديث: (( ازهد في الدنيا يحبك الله، وازهد فيما عند الناس يحبك الناس ))، وحديث: (( الدِّين النصيحة )).)).
3. Berkata ibn Rajab : ((Dan hadits ini merupakan salah satu hadits yang islam berputar-putar atasnya, diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’iy bahwa dia berkata : Hadits ini merupakan sepertiga ilmu, dan masuk kepada tujuh puluh bab tentang fiqih, dan dari Imam Ahmad, dia berkata : Dasar islam berdiri atas tiga hadits : hadits Umar (Amal-amal tergantung niat), dan hadits Aisyah (Barang siapa yang mengadakan yang baru dalam urusan agama kami yang tidak ada dasar padanya maka amal tersebut tertolak), dan hadits An Nu’man ibn Basyir : (Segala yang halal telah jelas, dan yang haram juga telah jelas). Dan ibn Rajab berkata juga (1/71)
ketika menjelaskan perkataan Imam Ahmad : ((Karena sesungguhnya agama seluruhnya kembali kepada mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang, dan berhenti terhadap perkara yang syubhat (samar), dan hal ini semuanya terkandung dalam hadits An Nu’man ibn Basyir, dan hanyalah menjadi sempurna hal tersebut dengan dua perkata, yang pertama : agar amal secara nampaknya mencocoki sunnah, dan hal ini yang dikandung dalam hadits Aisyah : (Barang siapa yang mengadakan yang baru dalam urusan agama kami yang tidak ada dasar padanya maka amal tersebut tertolak). Dan yang kedua : agar amal secara bathin dimaksudkan untuk mencari wajah Allah Azza wa Jalla, sebagaimana terkandung dalam hadits Umar : (Amal-amal itu tergantung niatnya). Dan Ibnu Rajab mendatangkan nukilan dari sebagian ulama (1/61-63) pada hadits-hadits yang Islam berputar diatasnya, dan bahwasanya dari mereka ada yang mengatakan : Ada dua hadits, dan ada yang mengatakan : ada empat hadits, dan ada yang mengatakan : ada lima hadits, dan hadits-hadits yang disebutkan olehnya dari sebagian ulama sebagai tambahan dari tiga hadits yang pertama adalah : hadits ((Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya)), dan hadits : ((Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya)), dan hadits : ((Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik.)), dan hadits : ((Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri)), dan hadits : ((Tidak boleh melakukan perbuatan yang membahayakan (diri sendiri dan orang lain)) dan hadits : ((Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian.)) dan hadits : ((Zuhudlah di dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah dengan apa yang manusia miliki maka manusia akan mencintaimu)) dan hadits : ((Agama itu nasehat)).
4 ـ قوله: (( إنَّما الأعمال بالنيَّات ))، (إنَّما): أداة حصر، و(الـ) في (الأعمال) قيل: إنَّها خاصة في القُرَب، وقيل: إنَّها للعموم في كلِّ عمل، فما كان منها قُربة أثيب عليه فاعله، وما كان منها من أمور العادات كالأكل والشرب والنوم فإنَّ صَاحبَه يُثاب عليه إذا نوى به التقوِّي على الطاعة، والألف واللاَّم بـ(النيات) بدلاً من الضمير (ها)، أي: الأعمال بنيَّاتها، ومتعلق الجار والمجرور محذوف تقديره معتبرة، أي: أنَّ الأعمال معتبرة بنيَّاتها، والنيَّة في اللغة: القصد، وتأتي للتمييز بين العبادات، كتمييز فرض عن فرض، أو فرض عن نفل، وتمييز العبادات عن العادات، كالغسل من الجنابة والغسل للتبرُّد والتنظُّف..
4. Sabda Nabi : (( Innamal a’maalu binniyyaat : Hanyalah amal-amal tergantung niat-niatnya)), Innama : Adaatul hashr (untuk pembatasan), dan Alif lam dalam Al A’maal dikatakan : Hal itu dikuhususkan untuk perbuatan pendekatan diri kepada Allah, dan dikatakan : Hal itu untuk hal yang umum pada setiap amal (baik ditunjukkan kepada Allah atau tidak -pent), Maka apa-apa yang termasuk pendekatan diri kepada Allah pelakunya diberi pahala atasnya, dan apa-apa yang termasuk urusan adat (kebiasaan manusia) seperti makan, minum, dan tidur, maka pelakunya diberi pahala atasnya jika meniatkan untuk menjadi kuat untuk melaksanakan ketaatan. Dan Alif Lam dalam kata An Niyyaat (النيات) merupakan badal (pengganti) dari dhomir (kata ganti orang/benda) Haa (ها), maksudnya Amal-amal tergantung dengan niat-niat amal tersebut, dan susunan Jar dan Majrur bergantung  pada sesuatu yang dihilangkan, yaitu mu’tabaroh (dianggap/diperhitungkan), maksudnya bahwasanya Amal-amal itu dipertimbangkan berdasarkan niat-niatnya. Dan niat secara bahasa adalah : Al Qoshdu (Maksud), dan hal itu datang untuk membedakan antar ibadah-ibadah, seperti membedakan antara yang wajib dengan yang wajib, atau yang wajib dengan yang sunnah, dan membedakan ibadah dengan adat seperti mandi janabah dan mandi untuk mendinginkan badan dan membersihkan badan.
5 ـ قوله: (( وإنَّما لكلِّ امرئ ما نوى ))، قال ابن رجب (1/65):
(((( إخبارٌ أنَّه لا يحصل له من عمله إلاَّ ما نواه، فإن نوى خيراً حصل له خير ٌ، وإن نوى شرًّا حصل له شرٌّ، وليس هذا تكريراً مَحضاً للجملة الأولى، فإنَّ الجملة الأولى دلَّت على أنَّ صلاحَ العمل وفسادَه بحسب النية المقتضية لإيجاده، والجملة الثانية دلَّت على أنَّ ثوابَ العامل على عمله بحسب نيَّتِه الصالحة، وأنَّ عقابه عليه بحسب نيَّته الفاسدة، وقد تكون نيَّتُه مباحةً فيكون العملُ مباحاً، فلا يحصل له به ثوابٌ ولا عقاب، فالعملُ في نفسه: صلاحه وفساده وإباحته بحسب النية الحاملة عليه المقتضية لوجوده، وثوابُ العامل وعقابُه وسلامته بحسب نيته التي بها صار العملُ صالحاً أو فاسداً أو مباحاً )).)).
5. Sabda Nabi : ((Dan setiap orang hanya memperoleh apa yang dia niatkan)), berkata Ibnu Rajab (1/65) : Pengabaran bahwasanya tidak akan diperoleh dari amalnya kecuali dengan apa yang dia niatkan, jika dia berniat baik maka dia akan memperoleh kebaikan, dan jika dia meniatkan yang buruk maka dia akan memperoleh keburukan, dan hal ini bukan merupakan pengulangan murnia dari kalimat yang pertama, karena dalam kalimat yang pertama menunjukkan bahwa dengan baik dan jeleknya amal tergantung dari niat yang dikehendaki untuk melaksanakannya, dan kalimat yang kedua menunjukkan bahwa pahala pelaku atas amalnya tergantung niatnya yang baik, dan dosa/siksa untuk pelaku tersebut tergantung dari niatnya yang buruk, dan terkadang bisa jadi niatnya untuk hal yang mubah (boleh) maka amalnya menjadi amal yang mubah, maka dia tidak mendapat pahala dan dosa atasnya, maka amal itu sendiri : baiknya dan buruknya, dan mubahnya tergantung niat yang dibawanya untuk melaksanakannya, dan pahala pelaku dan dosa/siksa dan keselamatan pelaku tergantung niatnya yang amal tersebut menjadi baik atau jelek atau mubah dengannya.))
6 ـ قوله: (( فمَن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومَن كانت هجرته لدُنيا يُصيبها أو امرأة ينكحها فهجرتُه إلى ما هاجر إليه )).
6. Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : ((Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah untuk Allah dan RasulNya, dan barang siapa yang hijrahnya untuk dunia yang dia cari atau wanita yang ingin dia nikahi maka hijrahnya kepada yang dia niatkan)).
الهجرة من الهَجر وهو الترك، وتكون بترك بلد الخوف إلى بلد الأمن، كالهجرة من مكة إلى الحبشة، وتكون من بلاد الكفر إلى بلاد الإسلام، كالهجرة من مكة إلى المدينة، وقد انتهت الهجرة إليها بفتح مكة، والهجرة من بلاد الشرك إلى بلاد الإسلام باقية إلى قيام الساعة.
Hijrah berasal dari kata Al hajru maksudnya meninggalkan, dan hijrah bisa dilakukan dengan meninggalkan negeri yang tidak aman ke negeri yang aman, seperti hijrah dari Mekkah ke Habasyah, dan hijrah juga bisa dilakukan dengan meninggalkan negeri kafir ke negeri islam, seperti hijrah dari Mekkah ke Madinah, dan hijrah dari Mekkah ke Madinah telah selesai setelah Fathul Makkah, sedangkan hijrah dari negeri kesyirikan ke negeri islam tetap ada sampai hari kiamat.
وقوله: (( فمَن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله )) اتَّحد فيه الشرط والجزاء، والأصل اختلافهما، والمعنى: من كانت هجرته إلى الله ورسوله نيَّة وقصداً، فهجرته إلى الله ورسوله ثواباً وأجراً، فافترقا، قال ابن رجب (1/72): (( لَمَّا ذكر * أنَّ الأعمالَ بحسب النيَّات، وأنَّ حظَّ العامل من عمله نيته من خير أو شرٍّ، وهاتان كلمتان جامعتان وقاعدتان كليَّتان، لا يخرج عنهما شيء، ذكر بعد ذلك مثالاً من أمثال الأعمال التي صورتُها واحدة، ويختلف صلاحُها وفسادُها باختلاف النيَّات، وكأنَّه يقول: سائر الأعمال على حذو هذا المثال )).
Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : ((Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya)) syarat dan balasan disana menjadi satu, dan secara ashl nya adalah berpecah keduanya,  dan maknanya : Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya yaitu, niat dan tujuannya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dibalas dengan pahala, maka keduanya berbeda, berkata Ibn Rajab (1/72) : ((ketika menyebutkan bahwa amal-amal tergantung niat-niatnya, dan bahwa bagian pelaku dari amalnya adalah niatnya baik itu niat baik ataupun buruk, dan kedua hal itu adalah dua kata yang bergabung, dan dua kaidah yang menyeluruh. tidaklah sesuatu amalan keluar dari keduanya, dan setelah itu, Ibn Rajab menyebut permisalan dari permisalan amal-amal yang bentuknya satu, akan tetapi berbeda kadar baiknya dan buruknya dengan berbedanya niat-niat, seolah-olah dikatakan : Seluruh amal-amal adalah ada pada contoh dari contoh ini.))
وقال أيضاً (1/73): (( فأخبر النَّبيُّ * أنَّ هذه الهجرة تختلف باختلاف النيَّات والمقاصد بها، فمَن هاجر إلى دار الإسلام حبًّا لله ورسوله، ورغبةً في تعلم دين الإسلام وإظهار دينه حيث كان يعجز عنه في دار الشرك، فهذا هو المهاجرُ إلى الله ورسوله حقًّا، وكفاه شرَفاً وفخراً أنَّه حصل له ما نواه من هجرته إلى الله ورسوله، ولهذا المعنى اقتصر في جواب هذا الشرط على إعادته بلفظه؛ لأنَّ حصولَ ما نواه بهجرته نهايةُ المطلوب في الدنيا والآخرة.
Dan ibnu Rajab berkata juga (1/73) : ((Maka Nabi mengabarkan bahwasanya hijrah ini menjadi berbeda dengan berbedanya niat-niat dan tujuan hijrah tersebut, maka barang siapa yang berhijrah kepada negeri islam karena cinta kepada Allah dan RasulNya, dan bersemangat untuk belajar agama islam dan menampakkan agamanya yang mana dia dahulunya lemah untuk menampakkannya di negeri kesyirikan, maka inilah yang dinamakan Muhajir (orang yang berhijrah) kepada Allah dan RasulNya yang benar,dan cukup baginya kemuliaan, dan kebanggaan bahwa dia memperoleh apa yang dia niatkan dari pahala hijrah kepada Allah dan RasulNya, oleh karena hal ini maknanya menjadi terbatas pada jawaban syarat ini atas pengulangan lafazh, hal ini dikarenakan diperolehanya apa yang dia niatkan dengan hasil yang dicari dengan hijrahnya baik di dunia maupun akhirat.))
ومَن كانت هجرتُه من دار الشرك إلى دار الإسلام لطلب دنيا يُصيبها أو امرأة ينكحها في دار الإسلام، فهجرته إلى ما هاجر إليه من ذلك، فالأوَّل تاجرٌ، والثاني خاطب، وليس واحد منهما بمهاجر..
Dan Barang siapa yang hijrahnya dari negeri kesyirikan ke negeri islam untuk mencari dunia yang dia inginkan atau wanita yang ingin dia nikahi di negeri islam, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan terhadap hal tersebut. Maka yang pertama adalah seorang pedagang, dan yang kedua adalah Khoothib (orang yang ingin melamar wanita), dan keduanya bukan merupakan orang yang berhijrah.
وفي قوله: (إلى ما هاجر إليه) تحقيرٌ لِمَا طلبه من أمر الدنيا واستهانة به، حيث لم يذكره بلفظه، وأيضاً فالهجرةُ إلى الله ورسوله واحدةٌ، فلا تعدُّدَ فيها، فلذلك أعاد الجوابَ فيها بلفظ الشرط، والهجرةُ لأمور الدنيا لا تَنحصر، فقد يهاجرُ الإنسانُ لطلب دنيا مباحة تارة ومحرَّمة أخرى، وأفراد ما يُقصد بالهجرة من أمور الدنيا لا تنحصر، فلذلك قال (فهجرته إلى ما هاجر إليه) يعني كائناً ما كان )).
Dan Sabda Nabi : ((kepada apa yang dia niatkan)) menunjukkan penghinaan terhadap apa yang dia cari dari perkara dunia dan kerendahan terhadapnya, walaupun tidak disebutkan dalam lafazhnya. Dan juga, perkara hijrah kepada Allah dan RasulNya adalah satu, maka tidak boleh untuk memisahkannya (membedakannya), oleh karena itu jawaban disana diulangi dengan lafazh syarat. Dan hijrah kepada urusan dunia tidaklah dibatasi, bisa jadi manusia berhijrah untuk mencari dunia yang mubah, dan bisa pula yang diharamkan, dan individu-individu dari apa yang dimaksud dengan hijrah dari urusan dunia tidak terbatas. oleh karena itu sabda nabi (maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan) maksudnya apa saja yang dia niatkan.
7 ـ قال ابن رجب (1/74 ـ 75): (( وقد اشتهر أنَّ قصةَ مهاجر أمِّ قيس هي كانت سببَ قولِ النبَّيِّ *: (من كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة ينكحها) وذكر ذلك كثيرٌ من المتأخرين في كُتُبهم، ولَم نرَ لذلك أصلاً بإسناد يَصحُّ، والله أعلم )).
7. Berkata Ibnu Rajab (1/74-75) : ((Dan telah masyhur bahwa kisah orang yang berhijrah yaitu Ummu Qoish adalah sebab dari sabda Nabi : (Barang siapa yang hijrahnya kepada dunia yang dia cari atau wanita yang ingin dia nikahi), dan banyak para ulama mutakhkhirin (akhir-akhir) yang menyebutkan hal tersebut dalam kitab-kitabnya, dan kami tidak melihat perkara ini dengan pendasaran yang bersanad shahih, Wallahu a’lam.))
8 ـ النيَّة محلُّها القلب، والتلفُّظ بها بدعة، فلا يجوز التلفُّظ بالنيَّة في أيِّ قُربة من القُرَب، إلاَّ في الحجِّ والعمرة، فله أن يُسمِّي في تلبيته ما نواه من قران أو إفراد أو تمتُّع، فيقول: لبَّيك عمرة وحجًّا، أو لبَّيك حجًّا، أو لبَّيك عمرة؛ لثبوت السنَّة في ذلك دون غيره.
8. Niat tempatnya adalah hati, dan pengucapannya adalah bid’ah, maka tidak boleh untuk melafazhkannya dengan niat apapun untuk mendekatkan diri kepada Allah (ibadah), kecuali dalam haji dan umrah, karena perkara tersebut dalam talbiyahnya mempunyai penamaan terhadap apa yang dia niatkan, yaitu qiran, atau ifrod atau tamattu’, maka dia mengatakan : Labbaika Umroh wa Hajjan, atau Labbaika Umrotan, karena adanya sunnah yang tetap akan hal tersebut dan bukan karena hal lain.
9 ـ مِمَّا يُستفاد من الحديث:
1 ـ أنَّه لا عمل إلاَّ بنيَّة.
2 ـ أنَّ الأعمال معتبرة بنيَّاتها.
3 ـ أنَّ ثواب العامل على عمله على حسب نيَّته.
4 ـ ضرب العالم الأمثال للتوضيح والبيان.
5 ـ فضل الهجرة لتمثيل النَّبيِّ * بها، وقد جاء في صحيح مسلم (192) عن عمرو بن العاص ، عن النَّبيِّ * قال: (( أمَا علمتَ أنَّ الإسلامَ يهدم ما كان قبله، وأنَّ الهجرةَ تهدم ما كان قبلها، وأنَّ الحجَّ يهدم ما كان قبله؟ )).
6 ـ أنَّ الإنسانَ يُؤجرُ أو يؤزر أو يُحرم بحسب نيَّته.
7 ـ أنَّ الأعمال بحسب ما تكون وسيلة له، فقد يكون الشيء المباح في الأصل يكون طاعةً إذا نوى به الإنسان خيراً، كالأكل والشرب إذا نوى به التقوِّي على العبادة.
8 ـ أنَّ العمل الواحد يكون لإنسان أجراً، ويكون لإنسان حرماناً.
* * *
9. Faidah Hadits :
1.      Bahwa tidak ada amal kecuali dengan niat.
2.      Bahwa amal-amal itu diperhitungkan berdasar niat-niatnya.
3.      Bahwa pahala orang yang beramal atas amalnya tergantung niatnya.
4.      Orang ‘Alim (hendaknya) memberikan permisalan untuk memberikan penjelasan.
5.      Keutamaan hijrah karena Nabi memberikan permisalan dengannya, dan telah ada hadits dalam Shahih Muslim (192) dari ‘Amr ibn Al Ash, dari Nabi
shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda : ((Tidakkah engkau tahu bahwa islam itu meruntuhkan apa yang sebelumnya (menghapuskan dosa -pent), dan bahwa hijrah itu menghapuskan dosa sebelumnya, dan bahwa haji juga menghapuskan dosa sebelumnya?)).
6.      Bahwa manusia diberi pahala atau dosa atau diharamkan melakukan sesuatu tergantung niatnya.
7.      Bahwa amal-amal berdasar wasiilah (perantara) yang dia punyai, bisa menjadikan sesuatu yang mubah secara asalnya menjadi ketaatan jika dia manusia berniat untuk kebaikan, seperti makan dan minum jika diniatkan untuk menambah kekuatan untuk beribadah.
8.      Bahwa satu jenis amalan bisa jadi manusia mendapat pahala, dan bisa jadi mendapat dosa/tidak mendapat pahala.
Diterjemahkan oleh : Abou Saleemah

Tuesday, February 21, 2012

Kata- kata dan nasihat dari guru saya...

munajat nya rasulullah

Baginda SAW bersabda dalam munajatnya.

.

للهم إليك أشكو ضعف قوتي وقلة حيلتي وهواني على الناس يا أرحم الراحم وأنت ربي إلى من تكلني إلى بعيد يتجهمني أم إلى عدو ملكته أمري إن بالي ولكن عافيتك هي أوسع لي أعوذ بنور وجهك الذي أشرقت له الظلمات والآخرة من أن تنزل بي غضبك أو يحل علي سخطك لك العتبى حتى ترض

Ya ALLAH, aku mengadu kepada-Mu kelemahan kekuatanku, sedikitnya kesederhanaan (klik gambar) Ya ALLAH, aku mengadu kepada-Mu kelemahan kekuatanku, sedikitnya kemampuanku dan hinanya aku pada pandangan mata manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih, Kamulah Tuhan golongan yang lemah dan Kamu juga Tuhanku. Kepada siapa Kamu serahkan aku? Kepada orang yang jauh yang memandangku dengan wajah bengis atau kepada musuh yang menguasai urusanku? Sekiranya Kamu tidak murka kepadaku, aku tidak peduli (apa yang menimpa). Namun keselamatan daripada-Mu lebih melapangkan aku..Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan serta memperelokkan urusan dunia dan akhirat. Aku berlindung daripada kemarahan-Mu atau kemurkaan-Mu terkena kepadaku. Kamu berhak mencela aku sehingga Kamu redha. Tiada kuasa dan tiada kekuatan melainkan dengan-Mu....(Ibn Hisham, al-Sirah al-Nabawiyyah, Beirut: Dar al-Jil, j.2, hal. 268)

Semoga Allah SWT kurniakan kekuatan kepada semua pejuang agama-Nya...sama ada kejayaan di dunia atau kesyahidan di akhirat...Amin...

Published with Blogger-droid v2.0.4

Monday, February 20, 2012

Ummat! bagaimana amalan anda?


Semua amalan meningkat bila umat nampak ganjaran.

Tp, umat tak nampak ganjaran. Macam mana nak buat amal?

Jawapannya iman. Kita x nampak kelebihan bagi orang berzikir pd mata kita. Tp iman boleh membuka mata hati kita.. Masyaallah

Iman? Percaya dan yakin tentang kewujudn Allah, rasul, malaikat, kitab2, hari akhirat, qada' dan qadar..

Serta patuh kepada Allah dan Rasul dan mengikuti serta menjadikan Alquran dan Sunnah sbg panduan...

JUZ 4 TAZKIRAH ^_^

Published with Blogger-droid v2.0.4

Monday, February 13, 2012

Ujiannya Allah subhanallahi wataala...

Assalamualaikum..^_^

apa khabar..sudah lebih seminggu dah ana tak post blog nih.. atas sebab kelembapan internet yg melampau..hehe..

jadi, macam mana amal entum? istiqamah? masyaallah.. amal yang paling sukar untuk dilakukan adalah amalan yang paling istiqamah dan ikhlas...

teringat pulak aku kepada kata ustaz aku.. namenye ustaz mizam dan seringkali diingatkan juga oleh maulana hazrul...kata diorang yg hikmah ni:

" kalau amal tak dapat buat semua jangan tinggalkan semua"

kata yang amat berhikmah menunjukkan amat pentingnya menjaga amalan dengan konsisten...

bak kata pepatah melayu: sikit-sikit, lama - lama jadi bukit...

bagi orang yang menjaga amalan nya dengan konsisten WalauPUN SEDIKIT, tapi mampu jadi asbab kurniaan rahmat, hikmah, berkat drpd Allah keatas seseorg itu..

kelebihan orang menjqga amalan nya dgn istiqamah adalah umpama air yang sedikit dicurahkan atas batu yang sentiasa mengalir tanpa henti..dan setelah beberapa tahun, batu menampakkan lekuknya.. begitulah amalan yg istiqamah spt rasululllah yg berdakwah dan berakhlak seperti dalam satu daripada sirah para sahabat yakni saidina abu bakar... yg mana apabila rasulullah saw telah wafat.. saidina abu bakar mengikuti smua sunnah rasulullah saw sehingga saidina abu bakar tanya kepada anaknya saiditina aisyah yg juga merupakan isteri nabi..saidina abu bakar bertanya: apakah semua sunnah nya rasulullah telah aku lakukan? saiditina aisyah menjawab hanya ada satu lagi iaitu memberi makan yahudi yang buta di sebuah pasar...

. setiap kali rasulullah ke pasar, baginda akan beri makan seorang yahudi buta kurma..

orang yahudi yg selalu nabi beri makan itu adalah org yg selalu menghina dan mencaci baginda

..

lalu saidina abu bakar assiddiq pergi ke pasar dan membri makan kpd yahudi itu..

saidina juga memberi kurma sebagaimana rasulullah.. kemudian yahudi itu menolak dan berkata: engkau bukan org yg selalu memberi ku makan! cara engkau memberi ku mkn lain dgn org sblm nya! cara org sblm engkau memberi makan jauh lebih baik dr mu ..aq ingin makan makanan yg diberikan oleh org itu...

lalu saidina abu bakar berkata: tahukah engkau siapa yg selalu memberi mu makan sblm ini? iaitu org yg selalu kau hinakan, muhammad..

mendgr kata saidina abu bakar itu, dia menangis dan dia terus memeluk islam...

masyaallah.. hebat nya akhlak rasulullah dan keaabaran baginda serta baginda istiqamah dlm dakwahnya...!

itu lah contoh harus kita ikut..

jadi, insyaallah..istiqamah lah kita kpd Amalan kita...

sentiasa lah melakukan perbuatan yg baik...

mudahkan urusan sesama manusia..

jauhkan perpecahan, hindarkan maksiat..

insyaallah , amalan yg istiqamah dpt menanam benih- benih ddlm hati, hingga entum menjadi org yg diredhai Nya...

Allahu karim wal Aziz..

Kita lah golongan yg dimuliakan Allah dgn islam!

Published with Blogger-droid v2.0.4

Thursday, February 9, 2012

What do I have to gain as Allah's Servant ?

Assalamualaikum Readers,,!

Kaif iman entum sume nih? Musti dah selawat kan? Alhamdulillah!

Ini cuma perkongsian yg ringkas sbb tak cukup masa utk sy kongsikan dgn lebih panjang..hehe..

Apa yg perlu kita, sebagai seorg Muslim utk membentuk diri Muslim yg KUKUH supaya kita jadi Muslim yg kuat??

Dlm satu petikan drpd Hadisnya Insan yg Mulia, Rasulullah, baginda bersabda:
"Mukmin yang kuat lebih disukai Allah drpd Mukmin yg lemah"

Perlu utk kita jadi Muslim yg kuat! sbb kita semakin lemah, tidak seperti di zaman Rasulullah, para sahabat, tabein di mana Ummat Islam amat dihormati dan digeruni oleh pihak lain.... kerana apa? Bagaimana ummat Islam dahulu lebih kuat? di mana Rahsia nya?

Dlm satu petikan drpd Hadisnya baginda(yg lebih kurang bunyinya):
"Akan sampai satu ketika, ummat islam akan dikerumuni oleh musuh-musuh Islam. Namun Ummat Islam tidak mampu berbuat apa-apa."

Lalu sahabat bertanya: Adakah ummat Islam waktu itu ramai?

Rasulullah menjawab: Ummat Islam amat ramai, tetapi umpama buih di lautan..

Masyaallah, saudara kita di Palestin diperangi oleh orang Kafir(Israel) dan turut dibantu oleh AS. byk perjanjian telah dibuat ttp dilanggar oleh pihak bukan Islam.. Byk saudara kita dianiaya dan dilayan seperti sampah ttp kita tidak mampu berbuat apa-apa...
Malah di Malaysia pun, maksiat berleluasa dan hak serta batil sudah bercampur ttp kita satu ummat Islam tidak mampu untuk memisahkan dan menegakkan semula yg hak..walaupun kita mempunyai bilangan yg amat ramai...

Allahu robbi..

kita telah lalai ya syaikhuna/ kwn2 sume...

Allah..

Kenapa kita lemah???

^_^

Ini adalah 4 "benih" utama yg perlu kita semaikan...

Akidah - Kekuatan, keyakinan tauhid, iman, taqwa, akidah

Ibadah - (Solat, Puasa, Zikir, Selawat, Istighfar) Ruh hati

Akhlak - Berbuat baik, menjaga hubungan

Ilmu - Ilmu dunya wal akhirat



Baiklah kita mula dgn akidah...simple2 je

Dalamilah sifat 20, kalimat Laa Ilaaha Ilallah, Asma'ul Husna, Syahadatain..

Siapa Allah?  Siapa Rasul? Siapa Malaikat? Apakah kitabullah? Apakah kiamat? Apakah qada' dan qadar?boleh kita terangkan kpd kawan-kawan kita, org islam, then org bukan islam?


Kemudian, Ibadah..

Satu hari zikirlah sekurangnya 100 kali istighfar, 100 kali selawat, 100 kali Laa ilaaha illallah

atau

baca susunan zikir yg disusun ulamak spt Imam Hasan AlBanna ( Al-Mathurat), Imam Abdullah Alawi Alhaddad (Ratib Alhaddad, Wird Lathiff)

dan bacalah Quran( sekurang nya 5-10 muka satu hari) dan hadith (sekurangnya 1 hadith stp hari)

Sabda Rasulullah: Aku tinggalkan kamu dua perkara, kalau berpegang kpd nescaya tidak akan sesat, iaitu kitabullah(quran) dan sunnah( hadith)

Samanya kita dr segi kekuatan dengan org bukan Islam, adanya kekuatan zahir...

ttp yg membezakan dan kelebihan org Islam adalah kekuatan Ruhani(Ruh) yg amat tinggi..



Akhlak...

Akhlak mulia menunjukkan kekuatan kita sebagai ummat Islam.. Yakni  Islam agama yg harmoni, mulia, hebat...dalam kekuatan adanya kemuliaan..masyaallah..

Allah mengutus Rasulullah dgn akhlak baginda yg mulia krn akhlak adalah  cermin diri sebenar..

Orang yang beriman, akhlak nya baik..

Ilmu..

Masyaallah Ummat Islam sekarang tidak ada masalah dgn Ilmu... kita mempunyai pakar2 dalam Ilmu dunia dan akhirat,.... 

Ilmu meningkat darjat seorg manusia..

Ilmu penting..




Insyaallah itu yg ana ingin kongsikan secara simple krn amat penting bg dikongsi..Ummat sekarang dalam masalah..siapa yg perlu betulkannya????

Kita perlukan Khalifah dan Khilafah...

Namun siapa kah Khalifah yg kita selalu nantikan yg akan membangun kan semula Khilafah???

KITALAH KHALIFAH!!!

"dan sesungguhnya kami ingin menjadikan (manusia) di muka bumi ini khalifah"- Al-quran

Khilafah tlh ada ttp kita perlu bangunkan...!

Allah tlh jadikan kita Khalifah agar kita sbg ummat Islam yg memerintah Bumi dan kita menjlnkan kehidupan kita juga sbg khalifah...insyaallah..

Juz 4 Tazkirah ^_^








Sunday, February 5, 2012

Ya Allah..jiwa ku kosong!!

bangun-bangun!
kita tanya iman kita..
(lorh,,pe kejadahnye??)


apa yang pentingnya iman nih?


kita, telah Allah ciptakan untuk kita beribadah kpd NYa dan Allah mengurniakan kpd kita dunia sbg ujian dan supaya kita mnedpt rahmat drpdNYA didunia ini...

kita melakukan perniagaan, belajar, maen bola, menyanyi, tidur,kahwin, makan, berjuang, bekerja, tapi, dalam jiwa kita kosong...
pada hakikinya kosong..

oleh itu, kita penuhkan jiwa kita ini dengan kecintaan kpd aweks/pakwe kita dgn berboyfren dan bergirlfren, menyanyi, melancong, membeli-belah, berjenaka, berbual, berteknologi, berbudaya, berkhayal dan banyak lg...kita dapat isi jiwa kita dgn perkara2 tuh...tp pd hakikatnya, kosong..

apakah pengisi jiwa sebenar??

teringat dalam munajat yg pernah sy dengar..:



"cinta kan bunga akan layu

cinta kan manusia akan mati cintakan Allah kekal abadi

itulah cinta, cinta yang hakiki"


pengisi jiwa yang sebenar memerlukan diri kita ini untuk kembali kepada Allah dan Rasul..

iaitu adalah dengan kita merenung semula akan diri kita, menghayati ciptaan ALLAH, berzikir, berselawat, membaca Al-quran, dan pemasak bagi jiwa yang hakiki itu adalah dengan cinta kepada Allah dan Rasul...

mu ragu-ragu? disebabkan ragu-ragu lah,  walaupun sebagai orang yang beriman kpd ALLAH dan Rasul, tetapi kita tidak ikut syariat(jalan) yang diajar oleh Islam...

sebab tu lah kita tengok dan dengar statistik masalah jenayah dan keruntuhan moral kat Malaysia yang majoritinya orang Islam semakin meningkat...

sebab apa??

sebab lemahnya iman KITA, rapuhnya iman KITA...

Iman nih pemenuh jiwa kita..jiwa yang sempurna yang diredhai Allah apabila Iman kita kukuh dalam hati kita, kita nak buat apa pun kita dahulukan Allah dan Rasul.. Orang yang beriman sgt diredhai ALLAH dan orang yang mempunyai iman, hati nya terisi dengan ketenangan, hikmah, merasa cukup, ceria..

Insyaallah

Juz 4 Tazkirah ^_^

Salah sila tegur..
Tak paham sila tanya..